بسم الله الرحمان الرحيم
الحمدالله
اللهم صل على سيدنا محمد و على اله و سلم
Sebelum saya bercerita tentang pengalaman saya terkait kalimat hauqalah yang agung ini, saya ingin memberikan pengenalan singkat tentang kalimat hauqalah ini.
Salah satu zikir kalimat thoyyibah adalah kalimat hauqalah,
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi
Artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.”
Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan sejumlah keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Ia mengutip hadits riwayat Ibnu Abid Dunya perihal orang yang melazimkan pembacaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.
ومن خواصها ما في فوائد الشرجي قال ابن أبي الدنيا بسنده إلى النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال من قال كل يوم لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم مئة مرة لم يصبه فقر أبدا اهـ
Artinya, “Salah satu keistimewaan lafal hauqalah ini adalah apa yang disebutkan di dalam Fawaidus Syarji, yaitu hadits riwayat Ibnu Abid Dunya dengan sanad tersambung hingga Rasulullah SAW bahwa ia bersabda, ‘Siapa saja yang membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Kasyifatus Saja)
Syekh Nawawi Banten juga mengutip hadits yang menjelaskan keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Menurutnya, hauqalah merupakan lafal yang baik dibaca ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan.
وروي في الخبر أيضا إذا نزل بالإنسان مهم وتلا لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ثلا ثمائة فرج الله عنه أي أقلها ذلك ذكره شيخنا يوسف في حاشيته على المعراج
Artinya, “Diriwayatkan di dalam hadits juga bahwa bila kebimbangan hinggap di hati seseorang lalu ia membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 300 kali, niscaya Allah membukakan jalan keluar baginya, maksudnya Allah mengurangi beban kesulitannya. Hal ini disebutkan oleh guru kami, Syekh Yusuf dalam hasyiyah Mi’raj-nya,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Kasyifatus Saja)(1)
Makna hauqalah terdapat ragam penafsiran dari para ulama. Penafsiran tersebut disampaikan satu persatu oleh Syekh Abul ‘Ala al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) dalam salah satu kitabnya Tuhfatul Ahwâdzi. Di antaranya sebagaimana penafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:
قَالَ النَّوَوِيُّ هِيَ كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيْضٍ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا، وَلَيْسَ لَهُ حِيْلَةٌ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي جَلْبِ خَيْرٍ إِلَّا بِإِرَادَةِ اللهِ
Artinya, “Imam an-Nawawi berkata: 'Kalimat hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah swt'.” (Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwâdzi bi Syarhi Jâmi’it Tirmidzi)
Masih dalam referensi yang sama, Syekh al-Mubarakfuri mengutip salah satu pendapat ulama, bahwa kalimat hauqalah memiliki makna tidak ada daya dalam menolak semua kejelekan dan tidak ada upaya untuk menarik kebaikan. Pendapat lain juga mengatakan, bahwa maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindar dari bermaksiat kepada Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, kecuali atas pertolongan-Nya.(2)
Dari kalam para ulama di atas kita bisa memetik hikmah bahwa salah satu kalimat agung yang bisa kita amalkan untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT adalah kalimat hauqalah.
Jadi ketika itu saya berniat ingin membelikan istri saya sebuah sepeda listrik sebagai sarana transportasi untuk aktifitas istri sebagai seorang ibu rumah tangga dengan berbagai kegiatannya seperti mengaji, antar-jemput anak sekolah/les, berbelanja dan lain-lain. Alasan saya memilih sepeda listrik karena selain harganya yang terjangkau, hemat biaya perawatan dan bahan bakar juga bisa digunakan secara legal oleh istri yang tidak memiliki SIM. Setelah melakukan riset kecil-kecilan akhirnya saya menetapkan pilihan sepeda listrik dengan merk dan tipe tertentu yang cukup memadai untuk segala kebutuhan istri. PR selanjutnya adalah menabung karena walaupun harganya lebih terjangkau dibandingkan harga sebuah motor, tapi saat itu saya tidak memiliki simpanan uang untuk membelinya tapi saya optimis dengan perkiraan sekitar 6 bulan menabung dengan jumlah nominal tertentu perbulannya saya bisa membeli sepeda listrik tersebut. Setelah 2 bulan menabung dengan sangat susah payah di bulan ke-3 ternyata pengeluaran sangat banyak melebihi biasanya sampai saya harus menggunakan uang yang sudah saya sisihkan 2 bulan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat itu di suatu siang saya sampai termenung memikirkannya, "Kok bisa ya penghasilan bulan ini habis sampai tak tersisa sampai saya harus menggunakan tabungan saya sebelumnya, jangankan membeli sepeda listrik untuk kebutuhan bulan ini saja saya tidak tahu bisa cukup atau tidak?". Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan riyadhoh nanti malam, riyadhoh apa? entahlah nanti saya coba cari tahu. Sorenya saat sudah tiba di rumah saya browsing untuk menentukan akan riyadhoh apa nanti malam dan menemukan sebuah hadits tentang khasiat zikir hauqolah dan memutuskan untuk segera mengamalkannya. Setelah selesai mendirikan sholat ashar dan berzikir seperti biasa, saya berdoa meminta rezeki kepada Allah, hanya doa biasa dengan bahasa Indonesia tapi doa itu serasa keluar dari hati yang tulus setelah itu saya lanjutkan dengan berzikir hauqolah sebanyak 100 kali sambil saya hayati maknanya, setelahnya hati saya terasa tenang, saking tenangnya saya sampai membatalkan niatan saya untuk melakukan riyadhoh. Esok paginya keajaiban terjadi, saya diberi kabar kalau bonus saya selama 3 bulan sudah ditransfer, subhanallah walhamdulillah, dan jumlahnya lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan saya sampai akhir bulan dan membeli sepeda listrik. Alhamdulillah, akhirnya sepeda listrik itupun terbeli.
Pengalaman berikutnya kejadiannya tidak lama setelah pengalaman yang saya ceritakan sebelumnya. Istri saya mendaftarkan anak kedua saya disebuah sekolah swasta Islam yang termasuk favorit dan untuk mendaftarnya harus 1 tahun sebelumnya karena saking banyaknya peminatnya. Setelah melewati tes akademik dan tes psikologi anak saya dinyatakan lulus diterima di sekolah tersebut dan kami mendapatkan kabar dari pihak sekolah kalau uang pendaftarannya harus dibayar sebelum tanggal tertentu bila tidak anak saya bisa tergeser oleh peminat yang lain. Mendekati tanggal yang ditentukan tapi belum ada tanda-tanda saya mendapatkan uangnya. Saya membatin, "Ya Allah jadikan saya berharap hanya kepadaMu, saya malu untuk meminta kepada orang lain.". Setelah sholat ashar dan berzikir seperti biasa, saya membaca 3 kali doa rezeki yang pernah diajarkan Rasulullah SAW kepada sayyidina Ali bin Abi Tholib, yaitu,
اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allâhummakfinî bi halâlika ‘an harâmik, wa aghninî bi fadhlika ‘amman siwâk
Artinya, “Wahai Tuhanku, cukupilah diriku dengan jalan (harta) yang Kau halalkan, bukan jalan (harta) Kau haramkan; dan kayakanlah diriku dengan kemurahan-Mu, bukan kemurahan selain diri-Mu.”
dan disetiap akhir doa tersebut saya tambahkan lagi bacaan asmaul husna:
يا الله، يا رزاق، يا وهاب
Ya Allahu, Ya Razzaqu, Ya Wahhabu
Artinya, "Wahai (Tuhan) Allah, Wahai Maha Pemberi Rezeki, Wahai Maha Pemberi"
setelah membaca doa itu saya bertawassul dengan membaca kalimat,
Bi karomati la hawla wa la quwwata illabillahil 'aliyyil 'azhim
artinya, "Dengan kemuliaan (kalimat) la hawla wa la quwwata illabillahil 'aliyyil 'azhim"
kemudian dilanjutkan membaca kalimat hauqalah sebanyak 100 kali dengan memaknai artinya. Alhamdulillah wa syukrulillah, keajaiban terjadi lagi, setelah maghrib saya mendapatkan transferan uang yang cukup untuk membayar pendaftaran sekolah anak saya.
Alhamdulillah, saya menceritakan kisah dari pengalaman ini dalam rangka tahadduts bin ni'mah dan semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran dan motivasi bagi orang lain.
Wallahu a'lam bisshawab.