Istighfar, selain untuk meminta ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah, juga terkenal akan fadilah-fadilah lainnya seperti melancarkan rezeki, melepaskan kesulitan, dll.
Dimana fadilah-fadilah dari istighfar itu tertuang dalam kitab suci al Qur'an, hadits-hadits Nabi saw dan tulisan-tulisan para ulama.
Saat kita sedang dirundung masalah dan membutuhkan jalan keluar. Maka solusinya adalah dengan beristighfar seperti yang disebutkan dalam firmanNya melalui kitab suci al Qur'an dan melalui lisan Nabi kita yang mulia. Karena bisa jadi penyebab dari segala masalah dan kegagalan kita adalah karena dosa-dosa kita. Maka memohon ampunlah kepadaNya, agar kita dibelas kasihani atas keadaan kita. Seperti kisah nabi Yunus as yang berdoa ketika dalam perut ikan.
Pasrahkan segalanya kepada Allah. Pasrahlah seperti jenazah yang sedang dimandikan, tidak punya daya dan kuasa apa-apa di tangan pemandi jenazah. Begitupun dengan kita yang tidak punya daya dan kuasa apapun atas masalah-masalah yang kita hadapi hanya Allah Yang Maha Mampu memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Sadarilah betapa lemahnya kita saat setitik cobaan dari yang Maha Kuasa menghancurkan segala ego kesombongan kita. Saat setetes ujian dariNya membuat kita sadar betapa butuhnya kita akan pertolongan dan ampunanNya. Saat itulah seorang hamba sadar akan posisinya dihadapan Tuhannya.
Saat hati kita sudah meresapi kalimat istighfar yang kita baca, insya Allah, pertolongan dan ampunan Allah Yang Maha Pengampun akan tiba.
Wallahu a'lam bis showab.
Senin, 24 September 2018
Minggu, 03 Juni 2018
Beberapa Sholawat Pendek
![]() |
Sholawat adalah bentuk jamak dari kata sholat, yang berarti doa. Pada umumnya, untuk negara Indonesia dan negara - negara sekitarnya, istilah "sholawat" bermakna mendoakan dan menyanjung nabi Muhammad SAW.
Sholawat untuk nabi Muhammad SAW adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT yang diperintahkan dalam firmanNya.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
(QS Al-Ahzab: 56)
Sholawat untuk nabi Muhammad SAW adalah salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan oleh para ulama untuk diperbanyak karena keutamaannya. Beberapa keutamaannya adalah,
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapus darinya sepuluh kesalahan dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR. an-Nasa'i)
Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan menulis baginya sepuluh kebaikan." (HR. Ahmad)
"Sesungguhnya jika engkau mengerjakan semua ketaatan sepanjang masa usiamu, kemudian Allah bershalawat (memberikan rahmat) kepadamu dengan satu kali shalawat, maka satu shalawat dari Allah itu akan lebih berat dibandingkan setiap ketaatan yang engkau kerjakan di sepanjang usiamu, karena sesungguhnya engkau bershalawat menurut kadar kekuatanmu, sedangkan Allah bershalawat (memberikan rahmat) kepadamu menurut kadar Ketuhanan dan Kedermawanan-Nya."
Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu shalawat, maka para malaikat akan bershalawat kepadanya selama dia bershalawat kepadaku. Maka seorang hamba (sebaiknya) berbuat itu (baik) sedikit ataupun banyak." (HR. Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah Saw bersabda,
”Bershalawatlah kalian kepadaku, karena shalawat kalian kepadaku menjadi zakat (pembersih dosa) bagi kalian.” (HR. Ibn Mardawaih)
Rasulullah Saw bersabda,
”Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian akan memberikan ampunan bagi dosa-dosa kalian dan carilah wasilah dan derajat di sisiku. Sesungguhnya wasilah di sisi Tuhanku adalah syafaat bagi kalian.” (HR. Hasan bin Ali r.a)
Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat pada Nabimu” (HR. Tirmidzi)
Dan banyak lagi keutamaannya yang terdapat dalam hadits - hadits Nabi SAW maupun keterangan - keterangan dari para ulama ahlus sunnah wal jama'ah.
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
(QS Al-Anbiya': 107)
Sholawat untuk nabi Muhammad SAW ada banyak macamnya dan yang paling utama menurut pendapat mayoritas para ulama ahlus sunnah wal jama'ah adalah sholawat Ibrahimiyyah, yang biasa dibaca saat tasyahhud terakhir dalam ibadah sholat.
Beberapa redaksi sholawat yang singkat dan ringan untuk diamalkan, adalah sebagai berikut,
Allahumma sholli `ala Muhammadin wa` ala ali Muhammad (HR an Nasa'i)
Allahumma sholli `ala Muhammadin wa ali Muhammad (kitab Shawa'iq Al Muhriqah oleh Ibnu Hajar al Haitami)
Allahumma sholli `ala Muhammadin wa` ala alihi wa sallim (kitab Afdholush Sholawat 'ala Sayyidis Sadat oleh Syaikh Yusuf Isma'il an Nabhani)
Allahumma sholli `ala Muhammadin wa alih (kitab Shawa'iq Al Muhriqah oleh Ibnu Hajar al Haitami, kitab Fathul Mu'in oleh Syaikh Zainuddin al Malibari, kitab Kasyifatus Saja oleh Syaikh Nawawi al Bantani)
Allahumma sholli 'ala Muhammadin 'abdika wa nabiyyika wa rosulikan nabiyyil ummiy
(Kitab Ihya 'Ulumuddin oleh Imam al Ghozali)
Allahumma sholli 'ala Muhammadinin nabiyyil ummiy
(Kitab Fadhlus Sholah 'alan Nabi oleh Imam Isma'il bin Ishaq al Qadhi, kitab Irsyadul 'Ibad Ila Sabilirrosyad oleh Syaikh Zainuddin al Malibari)
Allahumma sholli 'ala Muhammad
(Kitab Fathul Qorib oleh Syaikh Muhammad bin Qosim Al Ghozzi; kitab Sullamut Taufiq oleh Sayyid Abdullah bin Husain bin Thohir ba'alawi)
Allahumma sholli 'ala Muhammadin 'abdika wa nabiyyika wa rosulikan nabiyyil ummiy
(Kitab Ihya 'Ulumuddin oleh Imam al Ghozali)
Allahumma sholli 'ala Muhammadinin nabiyyil ummiy
(Kitab Fadhlus Sholah 'alan Nabi oleh Imam Isma'il bin Ishaq al Qadhi, kitab Irsyadul 'Ibad Ila Sabilirrosyad oleh Syaikh Zainuddin al Malibari)
Allahumma sholli 'ala Muhammad
(Kitab Fathul Qorib oleh Syaikh Muhammad bin Qosim Al Ghozzi; kitab Sullamut Taufiq oleh Sayyid Abdullah bin Husain bin Thohir ba'alawi)
Shollallahu 'ala Muhammad (kitab Afdholush Sholawat 'ala Sayyidis Sadat oleh Syaikh Yusuf Isma'il an Nabhani)
Jumat, 04 Mei 2018
tutorial gimp: mask layer
GIMP singkatan dari GNU Image Manipulation Program adalah sebuah software untuk editing gambar berbasis raster seperti Photoshop. Gimp adalah Open Source Software dan tersedia untuk berbagai jenis Operating System komputer seperti GNU/Linux, Windows (Microsoft) dan OS X (Mac - Apple). GIMP dapat di download dengan gratis di situs resminya www.gimp.org
Berikut adalah salah satu tutorial penggunaan layer mask di GIMP.
klik gambar untuk memperbesar
Sabtu, 17 Maret 2018
Zikir para pencari rezeki
“Hanya milik Allah asma'ul husna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof: 180).
"menyimpang dari kebenaran" maknanya berdasarkan tafsir Jalalain, adalah memberikan nama-nama Allah untuk nama-nama berhala.
“Katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asma'ul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Al Isro’ : 110).
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asma'ul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thoha : 8).
Dari Abu Hurairah r.a, "Bahwa Nabi SAW bersabda, 'Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Siapa yang menghafalnya akan masuk surga.” (Shahih Bukhari)
Asma'ul husna adalah nama-nama Allah yang telah Allah pilih untuk diriNya. Nama-nama yang bermakna pujian bagiNya. Asma'ul husna adalah sarana untuk memujiNya, memohon kepadaNya dan berdzikir kepadaNya.
Salah satu dari nama-nama Allah adalah Ar Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki).
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Adz Dzariyat : 58)
Berdzikir kepada Allah dengan asma' Ar Rozzaq, berarti kita ingat untuk bertawakkal kepada Tuhan Yang telah menjamin rezeki setiap makhlukNya.
Berdzikir kepada Allah dengan asma' Ar Rozzaq, karena kita hanyalah mahluk lemah yang sangat membutuhkan rezeki dari Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki.
Berdzikirlah dengan menyeru namaNya Ya Rozzaq, agar memperoleh kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
Jangan takut untuk berusaha karena rezeki telah dijamin oleh Allah.
Berdzikirlah dengan menyeru namaNya Ya Rozzaq, agar memperoleh kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
Jangan takut untuk berusaha karena rezeki telah dijamin oleh Allah.
Andaikan usaha si hamba gagal maka Allah tetap akan menyampaikan rezeki untuknya lewat jalur yang lain yang tidak disangka-sangka olehnya.
Semoga sukses dengan segala usaha dan cita-cita.
Semoga sukses dengan segala usaha dan cita-cita.
Wallahu a'lam bis showab.
Yaa Rozzaq, berikanlah kami rezeki yang halal, yang baik dan berkah.
Selasa, 27 Februari 2018
Istighfar, Warisan Leluhur Kita...
agar Iblis ditangguhkan umurnya hingga hari kiamat, memberikan kepada setan kemampuan untuk bisa mengalir dalam aliran darah manusia, setan dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihatnya. Allah SWT mengabulkan permohonannya. Itulah warisan dari Iblis untuk anak keturunannya, yaitu setan.
Saat Allah SWT murka kepada leluhur kita, Nabi Adam AS dan Siti Hawa, disebabkan kelalaian mereka dan hasutan dari Iblis. Mereka di usir oleh Allah SWT dan mereka membuat permohonan kepada Allah SWT, yaitu: ampunan dan belas kasihan dari Allah SWT (Istighfar).
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."
(QS. Al-A'râf 23).
Itulah warisan yang di wariskan kepada manusia dari leluhur kita, pelajaran akan istighfar.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lalai dan pelupa. Junjungan kita, semulia-mulianya makhluk keturunan Nabi Adam AS, hamba Allah yang paling di cintai Allah SWT, penutup para Nabi, utusan Allah SWT, Sayyidina Muhammad SAW, bahwa beliau SAW setiap selesai melaksanakan ibadah Sholat, selalu beristighfar sebanyak tiga kali.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika selesai dari sholatnya beliau beristighfar tiga kali dan berkata: Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom. Salah seorang perawi berkata, Aku bertanya kepada al-Auza’i, Bagaimana bunyi istighfar tersebut? Al-Auza'i menjawab, astaghfirullah astaghfirullah. (H.R Muslim).
Rasulullah SAW membaca istighfar tiga kali setelah sholat, karena ditakutkan adanya kelalaian dan ketidak sempurnaan yang tidak disadari saat beribadah kepada Allah SWT. Maka istighfar tersebut sebagai kafarat dan penyempurna ibadah sholat.
Dari hal tersebut bisa di tarik kesimpulan, bahwa kita di anjurkan beristighfar setelah melakukan perbuatan kebaikan yang sifatnya fardhu atau sunnah, karena di takutkan adanya kelalaian dan kesalahan saat melaksanakannya. Bagaimana dengan perbuatan yang sifatnya mubah atau bahkan makruh dan haram? Maka istighfar itu akan lebih dibutuhkan lagi.
Manusia adalah tempatnya lalai dan lupa, maka istighfar adalah kebutuhan kita. Inilah warisan dari leluhur kita. Wallahu a'lam bis showab.
Kamis, 30 Maret 2017
Kalimat yang paling dicintai Allah
Subhanallahi Wa Bihamdihi, Subhanallahil Azhim
(“Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung”)
Tasbih artinya mensucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya. Adapun Subhanallahi Wa Bihamdihi maknanya aku bertasbih dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maksud seseorang bertasbih dengan dzikir ini adalah
untuk mensucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti bodoh, lemah, mati, ngantuk dan sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya sekaligus memuji-Nya dengan menetapkan sifat-sifat yang sempurna bagi-Nya.
untuk mensucikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti bodoh, lemah, mati, ngantuk dan sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya sekaligus memuji-Nya dengan menetapkan sifat-sifat yang sempurna bagi-Nya.
Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad rahimahullah menulis dalam karya beliau "Miftaahul Jannah" pada halaman 146 penjelasannya sebagai berikut:
"Dan kubentangkan kepada pembaca karanganku ini akan satu faedah yang telah aku peroleh dari sebagian awliya` mengenai ucapan dzikir Subhanallahi Wa Bihamdihi (سبحان الله و بحمده)
Beliau menyatakan seperti berikut:
"Sesungguhnya penghayatan kepada makna Wa Bihamdihi (و بحمده) memasukkan orang yang berdzikir dengannya ke lapangan ma'rifah yang luas, yang dengannya diketahui akan rahasia penggandaan dan pertambahan amalan-amalan dan keberkatannya. Yang sedemikian itu adalah karena dhomir (ganti nama) pada kalimah Wa Bihamdihi (و بحمده) kembali kepada Allah jalla wa 'ala. Maka apabila engkau melafazkan Subhanallahi Wa Bihamdihi (سبحان الله و بحمده), yang engkau maksudkan ialah 'aku mensucikan-Nya dengan pujian-Nya (yakni aku memuji Allah dengan pujian Allah bagi diri-Nya).' Pujian-Nya bagi Diri-Nya itu qadim (tiada permulaan) karena Allah bersifat dengan Qidam dan kekal abadi dengan keabadian-Nya (yakni berkekalan selama-lamanya kerana Allah bersifat kekal abadi tiada kesudahan). Ini menjadikan ucapan tersebut tiada dapat dihinggakan bilangannya (bersifat tak terbatas) dan tiada dibatasi sembarang had batasan. Maka dengan ucapan tersebut, engkau memuji Allah dengan pujian-Nya sendiri bagi diri-Nya (yakni puji Qadim bagi Qadim) dan bukannya engkau memuji-Nya dengan pujian engkau sendiri."
"Sesungguhnya penghayatan kepada makna Wa Bihamdihi (و بحمده) memasukkan orang yang berdzikir dengannya ke lapangan ma'rifah yang luas, yang dengannya diketahui akan rahasia penggandaan dan pertambahan amalan-amalan dan keberkatannya. Yang sedemikian itu adalah karena dhomir (ganti nama) pada kalimah Wa Bihamdihi (و بحمده) kembali kepada Allah jalla wa 'ala. Maka apabila engkau melafazkan Subhanallahi Wa Bihamdihi (سبحان الله و بحمده), yang engkau maksudkan ialah 'aku mensucikan-Nya dengan pujian-Nya (yakni aku memuji Allah dengan pujian Allah bagi diri-Nya).' Pujian-Nya bagi Diri-Nya itu qadim (tiada permulaan) karena Allah bersifat dengan Qidam dan kekal abadi dengan keabadian-Nya (yakni berkekalan selama-lamanya kerana Allah bersifat kekal abadi tiada kesudahan). Ini menjadikan ucapan tersebut tiada dapat dihinggakan bilangannya (bersifat tak terbatas) dan tiada dibatasi sembarang had batasan. Maka dengan ucapan tersebut, engkau memuji Allah dengan pujian-Nya sendiri bagi diri-Nya (yakni puji Qadim bagi Qadim) dan bukannya engkau memuji-Nya dengan pujian engkau sendiri."
Lafal dzikir "Subhanallahi Wa Bihamdihi, Subhanallahil Azhim" adalah salah satu kalimat dzikir yang banyak di sebutkan dalam hadits-hadits Nabi Besar Muhammad Shollallahu 'alaihi wassallam.
- Rasulullah Saw bersabda,
"Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan, dan disukai (oleh) Allah Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat Subhanallahi Wa Bihamdihi, Subhanallahil Azhim". (HR Bukhari dan Muslim). - Rasulullah Saw bersabda,
"Sesungguhnya sebaik-baik ucapan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kalimat Subhanallahi Wa Bihamdihi.” (HR Muslim dan Tirmidzi) - Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, "Rasulullah pernah ditanya, 'Perkataan apa yang paling utama?'
Beliau menjawab, 'Yang dipilih Allah dan dipilih bagi malaikat dan hamba-hamba-Nya, yaitu (kalimat) Subhanallahi Wa Bihamdihi” (HR Muslim) - Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,
Maukah aku beritahukan kepadamu perkataan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya perkataan yang paling dicintai oleh Allah adalah, Subhanallahi Wa Bihamdihi.” (HR. Muslim, no. 2731) - Rasulullah Saw bersabda,
“Barang siapa mengucapkan 'Subhanallahi Wa Bihamdihi' sebanyak seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut.” (HR Muslim dan Tirmidzi) - Ibnu Umar ra meriwayatkan, "Bahwa suatu ketika Rasulullah Saw berkata kepada sahabatnya, 'Ucapkanlah 'Subhanallahi Wa Bihamdihi' sebanyak seratus kali. Barang siapa mengucapkan satu kali maka tertulis baginya sepuluh kebaikan, barangsiapa mengucapkannya sepuluh kali maka tertulis baginya seratus kebaikan, barangsiapa mengucapkannya seratus kali maka tertulis baginya seribu kebaikan. Barangsiapa menambahnya maka Allah pun akan menambahnya, dan barangsiapa memohon ampun, niscaya Allah akan mengampuninya.”
- Dalam musnad lmam Ahmad diceritakan, "Bahwa menjelang ajal Rasulullah Saw. Beliau memanggil putrinya dan berkata, 'Aku perintahkan engkau agar selalu mengucapkan 'Subhanallahi Wa Bihamdihi', karena kalimat tersebut merupakan doa seluruh makluk dan dengan kalimat itulah semua makluk mendapatkan limpahan rezeki.”
- Dari Sulaimana bin Yasar ra dari seorang laki-laki Anshor, "Bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, 'Berkata Nabi Nuh 'alaihissallam kepada anaknya, 'Aku wasiatkan kepadamu dengan suatu wasiat yang aku ringkas agar engkau tidak melupakannya. Aku wasiatkan dengan dua hal dan aku larang dari dua hal.' Kemudian beliau menyebutkan diantara wasiatnya, 'Dan aku wasiatkan dengan Subhanallahi wa bihamdihi karena ia adalah do'anya para makhluk dan dengan dua kata itu makhluk diberikan rezeki."
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al Isra':44). (HR. an-Nasai dan al-Bazzar) - Abu Dzar ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw 'amal apakah yang paling dicintai Allah SWT?'
Beliau menjawab, 'Yang telah dipilih Allah untuk para Malaikat-Nya yaitu (kalimat) Subhanallahi Wa Bihamdihi, Subhanallahil Azhim.” - Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, “Bahwa suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada Rasulullah la berkata, 'Dunia ini telah berpaling dariku dan apa yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.' Rasulullah bertanya padanya 'Apakah engkau tidak pernah membaca doa para Malaikat dan tasbihnya seluruh makluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?'
Lelaki itu bertanya, 'Doa apa itu wahai Rasulullah?'
Rasullullah menjawab, 'Subhanallahi Wa Bihamdihi, Subhanallahil Azhim, Astaghfirullah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan tunduk dan mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan pahalanya diberikan untukmu.” - Ummul Mukminin ‘Aisyah ra bercerita "Bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di hari-hari terakhirnya, banyak mengucapkan dzikir dan doa, 'Subhanallah wabihamdih, astaghfirullah, wa atubu ilaih', dan beliau bersabda, 'Sungguh Rabb-ku (Tuhan-ku) telah memberitahuku bahwa aku akan mendapatkan suatu tanda pada ummatku, dan Dia memerintahkan jika telah mendapatkannya agar aku bertasbih memuji-Nya dan beristighfar kepada-Nya, karena sungguh Dia Maha Penerima taubat, dan aku telah mendapatkannya.' lalu beliaupun membaca surah An-Nashr. 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." (QS An Nashr) (HR. Ahmad dan Muslim).
- Dari Ummul Mukminin Juwairiyah ra, "Bahwa, sekali waktu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah pergi selepas shalat subuh, sementara aku dalam posisi duduk di tempat shalat sambil terus berdzikir. Lalu saat pada waktu dhuha (menjelang dzuhur), ternyata Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam masih mendapati aku tetap duduk berdzikir seperti semula. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pun bertanya, 'Apakah kamu tetap duduk begini sambil berdzikir seperti saat aku tinggalkan ba'da subuh tadi?'. Aku menjawab, Benar. Lalu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melanjutkan sabda Beliau, 'Sesungguhnya, setelah meninggalkanmu tadi, Aku telah mengucapkan empat lafal dzikir, sebanyak tiga kali, yang bisa mengungguli seluruh dzikir yang kamu baca sejak subuh tadi, kalimat itu adalah, Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ’arsyihi, wa midada kalimatihi (Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya, sebanyak bilangan makhluk-Nya, sebesar ridha dari-Nya, seberat ‘Arasy-Nya dan sebanyak hitungan kalimat-Nya)” (HR Muslim)
- Rasulullah Saw bersabda,
“Barang siapa yang mengucapkan 'Subhanallahi Wa Bihamdihi', maka baginya disiapkan tanaman pohon kurma di surga.“ (HR. Ibnu Hibban) - Rasulullah Saw bersabda,
“Barang siapa yang malam-malamnya digelisahkan oleh pikiran, barang siapa yang pelit untuk berinfak dan takut diserang musuh, maka banyak-banyaklah membaca 'Subhanallahi Wa Bihamdihi', karena kalimat itu lebih dicintai Allah daripada menginfakkan segunung emas dan perak di jalan Allah.“ (HR. Thabrani)
Langganan:
Postingan (Atom)













