Kamis, 09 Juni 2022

Tafsir ayat 1000 Dinar (Surah at-thalaq ayat 2-3)

 

Surah at-Thalaq ayat 2-3
 

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepadaku Kahmas ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Abus Salil, dari Abu Zar yang mengatakan bahwa,

Rasulullah Saw. membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3), hingga akhir ayat. Kemudian beliau Saw. bersabda: "Hai Abu Zar, seandainya semua manusia mengamalkan ayat ini, niscaya mereka akan diberi kecukupan". Abu Zar melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah Saw. membaca ayat ini berulang-ulang kepadanya hingga ia merasa mengantuk.

-----------------------------------------------------------------------

Dan ayat yang paling besar mengandung jalan keluar dalam Al-Qur'an adalah firman Allah Swt.: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2)

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Mahdi ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Al-Wa!id ibnu Muslim, dari Al-Hakam ibnu Mus'ab, dari Muhammad ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu
Abbas) yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"Barang siapa yang memperbanyak bacaan istigfar, maka Allah akan mengadakan baginya dari setiap kesusahan pemecahannya dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Bahwa Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan di dunia dan akhirat. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 3)

Ar-Rabi' ibnu Khaisam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Maksudnya, jalan keluar dari setiap perkara yang menyempitkannya, yakni menyusahkannya.

Ibnu Mas'ud dan Masruq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Yakni dia mengetahui bahwa jika Allah menghendaki, niscaya memberi­nya; dan jika Allah tidak menghendaki, niscaya Dia mencegahnya. "dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 3) Maksudnya, dari arah yang tiada diketahuinya.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Yaitu dari semua kesulitan urusannya dan kesusahan di saat menjelang kematiannya. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq:3) Yakni sesuai dengan apa yang dicita-citakannya, tetapi tidak terlintas dalam benaknya akan dapat diraih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah ibnu Isa, dari Abdullah ibnu Abul Ja'd, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Sesungguhnya seseorang hamba benar-benar tersumbat rezekinya disebabkan suatu dosa yang dilakukannya. Dan tiada yang dapat menolak takdir selain doa. Dan tiada yang dapat menambah usia selain dari kebaikan."

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Malik Al-Asyja'i datang kepada Rasulullah Saw., lalu melaporkan kepada beliau bahwa salah seorang anaknya yang bernama Auf ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:

"Sampaikanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya Rasulullah menganjurkan kepadamu untuk memperbanyak ucapan, 

  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

(Laa hawla walaa quwwata illaa billaah)

'Tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah) kecuali dengan (pertolongan) Allah.”

Tersebutlah bahwa kaum musyrik telah mengikat anak Malik itu pada sebuah tiang, lalu tiang itu roboh dan ia dapat melepaskan diri dari ikatannya. Maka ia keluar melarikan diri. Tiba-tiba ia menjumpai seekor unta milik mereka, maka ia langsung menaikinya dan memacunya. Ketika di tengah jalan ia menjumpai sekumpulan ternak yang banyak jumlahnya milik kaum yang telah menawannya dan yang telah mengikatnya. Lalu ia menggiring ternak unta itu hingga semua ternak unta lari mengikutinya tanpa ada seekor unta pun yang tertinggal.

Tiada yang mengejutkan kedua orang tuanya kecuali seruan anaknya di depan pintu rumah mereka. Maka ayahnya berkata, "Dia Auf, demi Tuhan yang memiliki Ka'bah." Dan ibunya berkata, "Waduh, hebatnya si Auf, padahal dia telah diikat pada tiang oleh musuhnya." Lalu keduanya berebutan menuju ke pintu rumah dan juga pelayan keduanya, tiba-tiba mereka melihat Auf telah tiba dengan membawa ternak unta yang memenuhi halaman rumah mereka. Kemudian Auf menceritakan kepada kedua orang tuanya nasib yang dialaminya dan perihal ternak unta yang dibawanya itu. Maka ayahnya berkata, "Tahanlah sikapmu berdua, aku akan menghadap terlebih dahulu kepada Rasulullah Saw. untuk menanyakan apa yang harus kita lakukan dengan ternak unta ini." Ayahnya datang menghadap kepada Rasulullah Saw., lalu menceritakan kepadanya berita tentang Auf anaknya dan ternak unta yang dibawanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Berbuatlah sesuka hatimu dengan ternak unta itu, ternak unta itu sekarang telah menjadi milikmu. Lalu turunlah firman Allah Swt. yang mengatakan: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3)

Firman Allah Swt.:
"Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq: 3)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Hajjaj, dari Hanasy As-San'ani, dari Abdullah ibnu Abbas yang telah menceritakan kepadanya bahwa di suatu hari ia pernah dibonceng di belakang Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: "Hai para pemuda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (yaitu), peliharalah (batasan-batasan) Allah, niscaya Dia akan memeliharamu. Ingatlah selalu Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Dan apabila kamu memohon, mohonlah kepada Allah; dan apabila kamu meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa umat ini seandainya bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan mudarat terhadap dirimu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudarat terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah akan menimpa dirimu. Qalam telah diangkat dan semua lembaran telah kering (takdir telah ditetapkan)."
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Lais ibnu Sa'd dan Ibnu Lahi'ah dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Basyir ibnu Sulaiman, dari Sayyar Abul Hakam, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "Barang siapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu ia menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan bahwa keperluannya itu tidak dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang menyerahkan keperluannya kepada Allah Swt., maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki yang segera atau memberinya kematian yang ditangguhkan (usia yang diperpanjang)."
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Abdur Razzaq, dari Sufyan, dari Basyir, dari Sayyar alias Abu Hamzah. Selanjutnya Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad inilah yang benar, karena Sayyar Abul Hakam belum pernah meriwayatkan hadis dari Tariq. 

Firman Allah Swt.:
"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya." (Ath-Thalaq: 3)
Yakni melaksanakan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum-Nya terhadap makhluk-Nya menurut apa yang dikehendaki dan yang diinginkan-Nya.

Firman Allah Swt.:
"Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
"Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya." (Ar-Ra'd: 8)

------------------------------------------------------------------------

Istighfar 70x/100x

hawqolah 100x

ayat seribu dinar 

Selasa, 26 April 2022

makna atau arti dari kalimat zikir "la haula wa la quwwata illa billah"

Kalimat zikir "la haula wa la quwwata illa billah" bila di terjemahkan atau artikan ke dalam bahasa Indonesia sering di artikan "Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah" atau bila di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "There is no power and no strength except with Allah" 

sebenarnya tidak ada kalimat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang benar-benar bisa mengartikan kalimat zikir tersebut secara tepat dikarenakan keterbatasan kekayaan kosa kata kalimat bahasa Indonesia atau bahasa Inggris di bandingkan dengan kalimat bahasa Arab. 

Salah satu kelemahan dalam terjemahan tersebut adalah, apakah beda makna daya dan kekuatan dalam terjemah kalimat zikir tersebut? padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daya dan kekuatan memiliki makna yang sama. Jawabannya, sebenarnya penggunaan kata daya dan kekuatan hanya untuk membedakan terjemahan kata haula (hawla) dan quwwata dari bahasa Arab. Makna haula dan quwwata itu maknanya hampir mirip, tapi yang satu bersifat menolak/menghindari dan yang satu lagi bersifat menarik/mendatangkan.

Sebagian para ulama memaknainya "Tiada kekuatan untuk menolak keburukan/maksiat dan tiada kekuatan untuk menarik kebaikan/keta'atan kecuali dengan pertolongan Allah"

Penafsiran tersebut disampaikan satu persatu oleh Syekh Abul ‘Ala al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) dalam salah satu kitabnya Tuhfatul Ahwâdzi. Di antaranya sebagaimana penafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi: 'Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, tidak ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah swt'.” (Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwâdzi bi Syarhi Jâmi’it Tirmidzi, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 2000], juz IX, halaman 301). 

Masih dalam referensi yang sama, Syekh al-Mubarakfuri mengutip salah satu pendapat ulama, bahwa kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah memiliki makna tidak ada daya dalam menolak semua kejelekan dan tidak ada upaya untuk menarik kebaikan. Pendapat lain juga mengatakan, bahwa maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindar dari bermaksiat kepada Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, kecuali atas pertolongan-Nya.

Begitu juga menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, tidak jauh berbeda dengan beberapa makna yang telah disebutkan sebelumnya. Menurutnya, makna kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah tidak ada yang memiliki daya untuk bisa menghindar dari maksiat kecuali dengan adanya penjagaan dari Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali mendapatkan taufiq dari Allah swt. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bâri, [Beirut, Dârul Ma’rifah: 1999], juz XI, halaman 500).

Sumber


Senin, 12 Oktober 2020

Wirid

Ba'da Sholat 5 waktu.

Setelah wirid yang umum ba'da sholat 5 waktu

-Ayat Kursi (QS 2:255) 1x

-Tasbih 10x, Tahmid 10x, Takbir 10x.

-Basmalah (QS 1:1) 1x

-Niat (Boleh diucapkan, boleh dalam hati)

"Ya Allah, saya berniat membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW untuk:

1. Menjalankan PerintahMu ya Allah

2. Memenuhi haknya baginda Nabi Muhammad SAW

3. Agar mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad SAW

4. Sebagai wasilah untuk terkabulnya hajat-hajatku, yaitu (sebutkan hajatnya)"

-Basmalah (QS 1:1) 1x

-Hamdalah (QS 1:2) 1x

-Sholawat Jibril (Shollallah 'alaa Muhammad) 100x (Shollallahu 'alaihi wa sallam) 1x

-Robbi inni zholamtu nafsii faghfirli (QS 28:16) Robbi inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir (QS 28:24) Robbisy rohli shodri wa yassirli amri (QS 20:25-26) 7 x

-Robbanaa aatinaa fid dun yaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqinaa adzaaban naar (QS 2:201) 1x

-Sholawat dan hamdalah (Wa shollallahu 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa sallam walhamdulillahi robbil 'aalamiin) 1x

-Al fatihah (QS 1:1-7) 1x

- Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin 1x

Jumat, 22 November 2019

Pengalaman menangani kesurupan

Sekitar tahun 2011 atau 2012, saya ama istri pernah liburan ke taman safari di bogor saat plg dr taman safari mampir makan malam dulu di daerah blok m, disitu istri saya tau2 nangis, saya bacain surat an nas dan al falaq tp ga ada pengaruh apa2. Sampe rmh saya baca2in lagi pake sholawat dan zikir ratib al haddad dan al athos, setiap sampe kalimat bacaan tertentu jinnya nangis tapi pas udah ganti bacaan lain jinnya ketawa terus ngedorong saya sambil ngomong "apaan sih".. jirr asli bikin kita ngedown.. akhirnya saya memutuskan utk sholat isya abis sholat saya berdoa pake bahasa indonesia yg isinya doanya saya pasrah ama Allah, saya akui segala kesalahan saya dan istri, dan menyatakan kalau saya itu lemah dan ga punya daya apa2 dan sangat butuh pertolongan dari Allah, intinya saya curhat dalam doa saya. Kemudian doa saya tutup dgn zikir la hawla wala quwwata illa billah sambil saya resapi makna kalimat zikir tersebut. Selesai berdoa saya bangun dari sajadah kemudian saya coba bangunkan istri saya mengingatkan untuk sholat isya, eh kagetnya istri saya ngerespon saya dan ternyata istri saya sudah sadar dari kesurupannya. Pas saya tanya dia sadar ga pas saat kesurupan dia bilang ga inget apa2..
Hikmahnya yg saya ambil dari pengalaman itu bahwa kita manusia itu lemah, bacaan zikir dan doa apapun itu hanyalah alat untuk ingat kepada Allah. Jangan menganggap doa dan bacaan zikir yg kita baca yg hebat tapi lupa kepada yg di zikiri yaitu Allah SWT.
Wallahu a'lam. 🙏

Senin, 16 September 2019

La ilaha illallah

La ilaha illallah

"Tiada Tuhan Selain Allah"

Menurut Abdullah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, La ilaha illallah bermakna tiada yang bisa mendatangkan manfaat atau bahaya kecuali Allah, tiada yang bisa memuliakan atau menghinakan kecuali Allah, tiada yang bisa memberi atau mencegah kecuali Allah.

Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?“ Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS AL MAIDAH: 76)

Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami“. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (QS AL ANAM: 71)

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di sisi Allah“. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?“ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS YUNUS: 18)

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim“. (QS YUNUS: 106)

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?“ Jawabnya: “Allah“. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?“. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?“ Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa“. (QS AR RAD: 16)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? (QS THAHA: 89)

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?“ (QS AL ANBIYA: 66)

Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS AL HAJJ: 12)

Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. (QS AL FURQAN: 3)

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (QS AL FURQAN: 55)

Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?
atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?“ Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?
Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam, (yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”
(QS ASY SYUARA: 72 - 82)



Selasa, 20 Agustus 2019

Hasbunallah wa ni'mal wakil

Hasbunallah wa ni'mal wakil

Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik Pemelihara

Kalimat 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' dibaca oleh Nabi Ibrahim saat beliau dilempar oleh raja Namrudz yang kafir ke dalam api besar untuk membakarnya
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muktamar bin Sulaiman At Taimy, dari sebahagian sahabatnya, “Malaikat Jibril datang kepada Nabi Ibrahim saat terikat menjelang dilempar ke api yang besar dan berkata, 'Wahai Ibrahim, apakah kamu perlu bantuan?'
Nabi Ibrahim menjawab, 'Adapun bila kepadamu wahai Jibril maka aku tidak memerlukan bantuan'. 
Lalu Nabi Ibrahimpun dilempar ke dalam api yang besar tersebut. Saat dilempar Nabi Ibrahim mengucapkan 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' dan dengan Izin Allah maka api itu berubah menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim.
(Kitab Fathul Qodir, Imam Asy Syaukani)

'Hasbunallah wa ni'mal wakil' adalah kalimat yang juga di baca oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ketika 
Rasulullah dan para sahabatnya, yang dalam keadaan terluka setelah perang Uhud, kembali ke Madinah. Datanglah berita untuk menakut-nakuti beliau bahwa pasukan Quraisy lengkap dengan segala kekuatannya telah berkumpul dan siap untuk menyerang mereka.
Maka Rasulullah dan para sahabatnya mengucapkan 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Rasulullah mengumpulkan semua pasukan yang sedang terluka untuk balik menyerang pasukan kafir Quraisy. Mereka menyusul sampai ke Badar dan Hamra’ul Asad tetapi pasukan kafir Quraisy telah lebih dahulu lari ke Makkah karena takut oleh Rasulullah dan pasukannya.
(Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabary dan HR Bukhari)

Kalimat ini pulalah yang diucapkan oleh ‘Aisyah, isteri Rasulullah saw, saat beliau tertinggal dari rombongan Rasulullah sepulang dari peperangan bani Musthaliq.
Beliau tertinggal rombongan kemudian diantar pulang oleh Shafwan bin Mu’aththal ke Madinah. Akibatnya peristiwa itu menjadi fitnah besar di Madinah.
Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan bahwa Zainab ra dan ‘Aisyah ra saling membanggakan kemulian mereka. Zainab berkata, “Akulah yang pernikahannya (dengan Rasulullah), perintahnya langsung dari langit”. ‘Aisyah ra menimpali, “Akulah yang pembersihan nama baikku turun di dalam Al Quran, ketika aku dibawa oleh Ibnu Mu’aththal menunggang unta”. Zainab ra bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apakah kalimat yang kamu ucapkan saat naik unta tersebut?”. ‘Aisyah ra menjawab, 'Hasbiyallah wa ni'mal wakil' (Cukuplah bagiku Allah, sebaik-baik Pemelihara). Maka selamatlah ‘Aisyah ra dari fitnah besar yang sangat buruk tersebut.
(Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabary)

kalimat ini pula yang diucapkan oleh panglima perang Sa’ad bin Abi Waqqas, ketika akan menyeberang sungai Dijlah hendak menyerang dan merebut Persia.
“Ketika pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan sahabat yang mulia Sa’ad bin Abi Waqqas hendak menyerang Persia, mereka berhadapan dengan sungai Dijlah. Dan semua pasukan belum pernah selama ini bertemu dengan sungai. Maka Sa’ad bin Abi Waqqas mengajak dan memerintahkan pasukannya masuk ke sungai untuk menyeberang ke Persia.
Beliau perintahkan pasukannya ketika akan masuk ke air sungai untuk mengucapkan:
'Nasta’inu billah, wa natawakkalu ‘alaih, hasbunallah wa ni'mal wakil, wa laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyil ‘Azhim'
(Kepada Allah kita minta tolong dan kepadanya kita berserah, cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik Pemelihara, tiada daya dan upaya melainkan dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).
Maka masuklah mereka ke dalam sungai semuanya. Tidak satupun yang tertinggal atau mundur. Mereka berjalan seolah-olah di atas tanah. Seluruh permukaan air penuh dengan kuda dan pasukan. Sampai-sampai air sungai dijlah tak terlihat lagi. Mereka berbicara di atas permukaan air bagaikan berbicara di atas tanah.
Yang demikian itu karena mereka sangat nyaman dan tenang serta yakin dengan pertolongan Allah. Dan karena panglima perang mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqas, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk syurga. Tak satupun diantara pasukan itu yang tenggelam, kecuali seorang lelaki yang bernama Ghardaqah Al Bariqi, karena terjatuh dari kudanya. Tapi kemudian diselamatkan oleh Qa’qa’ bin Amr.
(Kitab al Bidayah wan Nihayah, Imam Ibnu Katsir)

Diriwayatkan oleh Abu sa’id, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Bagaimana engkau bisa bersenang-senang? sementara Malaikat peniup sangkakala telah memasukkan sangkakala ke mulutnya dan telah siap bila sewaktu waktu mendengar perintah untuk meniupnya. Hal itu membuat risau para sahabat Rasulullah. Maka Beliau memerintahkan mereka, 'Bacalah, Hasbunallah wa ni'mal wakil ‘alallahi tawakkalna (Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik Pemelihara, kepadaNyalah kami berserah).”
(HR Tirmidzi)

Asma “Al-Wakil” mengandung arti Yang Maha Pemelihara, Yang Maha Mengurus, Yang Maha Mewakili. Al-Wakil yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala yang memelihara, menjaga dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia yang memelihara dan mengurus segala sesuatu yang dipasrahkan oleh hambaNya tanpa membiarkannya terbengkalai.

Dalam ajaran islam dikenal sebuah konsep yang dinamakan Tawakal atau tawakkul yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Tawakal berarti berserah atau berpasrah diri sepenuhnya kepada Allah Al-Wakil dan percaya sepenuh hati kepada kehendak Allah.

Hasbunallah wa ni'mal wakil, bila dimaknai dengan bahasa keseharian, maka bisa di maknai "Cukuplah hanya Allah saja sebagai penolong kami, Dia adalah yang sebaik-baik mengurus segala urusan kami." Segala urusan itu mencakup urusan hidup, mati, jodoh, rezeki, keselamatan dan semua urusan yang di luar kemampuan kita sebagai makhluk untuk mengaturnya.

Tawakal adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah swt setelah berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuannya.

Dalam sebuah hadits, Seseorang berkata kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku lepaskan saja untaku kemudian aku bertawakkal?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkal kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Jumat, 24 Mei 2019

Robbighfirli


Dalam Qur'an Surat Shod ayat 35. Nabi Sulaiman as berdoa kepada Allah di awali dengan kalimat istighfar "Rabbighfirli"
"Rabbighfirlii wahablii mulkan laa yanbaghii li-ahadin min ba’dii innaka antal wahhaabu."
Artinya:
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi."