Senin, 03 November 2025

kunci zikir hauqolah

 

بسم الله الرحمان الرحيم

الحمدالله

اللهم صل على سيدنا محمد و على اله و سلم


Salah satu kalimat zikir nabawiyah yaitu, 

لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Laa hawla wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhiim

"Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung"

adalah kalimat zikir yang mengungkapkan ketidak mampuan dan kepasrahan diri seorang hamba kepada Tuhannya.

Nabi SAW bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat yang berasal dari bawah ‘Arsy dari pusaka surga? Katakanlah olehmu:

 لا حول ولا قوة إلا بالله 

‘tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’, 

niscaya Allah akan mengatakan, ‘HambaKu telah menyerahkan dirinya dan meminta perlindungan.”

(HR Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a)

Maka saat berzikir dengan kalimat ini, pasrahkan hati dan diri kita hanya kepada Allah SWT apapun hasilnya itu adalah yang terbaik dari Allah. Pasrahkan diri kita kepada Allah seperti jenazah di tangan pemandi jenazah atau pasrahkan diri kita seperti sepotong kayu yang terapung di tengah lautan samudera, sama sekali tidak berdaya hanya bisa terombang ambing di tengah kekuasaanNya dan hanya bisa berharap kemurahanNya. Resapi kalimat zikir tersebut sampai hati menjadi lapang dan yakin bila Allah akan menyelesaikan dan melenyapkan segala masalah yang kita hadapi. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan petunjuk dan kemudahan dalam menghadapi masalah yang sedang kita hadapi.

wallahu a'lam bis showab.

Senin, 06 Oktober 2025

sekelumit kisah pengalaman keberkahan kalimah hauqolah


بسم الله الرحمان الرحيم

الحمدالله

اللهم صل على سيدنا محمد و على اله و سلم

Sebelum saya bercerita tentang pengalaman saya terkait kalimat hauqalah yang agung ini, saya ingin memberikan pengenalan singkat tentang kalimat hauqalah ini.

Salah satu zikir kalimat thoyyibah adalah kalimat hauqalah,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi

Artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.”

Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan sejumlah keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Ia mengutip hadits riwayat Ibnu Abid Dunya perihal orang yang melazimkan pembacaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

ومن خواصها ما في فوائد الشرجي قال ابن أبي الدنيا بسنده إلى النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال من قال كل يوم لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم مئة مرة لم يصبه فقر أبدا اهـ

Artinya, “Salah satu keistimewaan lafal hauqalah ini adalah apa yang disebutkan di dalam Fawaidus Syarji, yaitu hadits riwayat Ibnu Abid Dunya dengan sanad tersambung hingga Rasulullah SAW bahwa ia bersabda, ‘Siapa saja yang membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Kasyifatus Saja)

Syekh Nawawi Banten juga mengutip hadits yang menjelaskan keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Menurutnya, hauqalah merupakan lafal yang baik dibaca ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan.

وروي في الخبر أيضا إذا نزل بالإنسان مهم وتلا لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ثلا ثمائة فرج الله عنه أي أقلها ذلك ذكره شيخنا يوسف في حاشيته على المعراج

Artinya, “Diriwayatkan di dalam hadits juga bahwa bila kebimbangan hinggap di hati seseorang lalu ia membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 300 kali, niscaya Allah membukakan jalan keluar baginya, maksudnya Allah mengurangi beban kesulitannya. Hal ini disebutkan oleh guru kami, Syekh Yusuf dalam hasyiyah Mi’raj-nya,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Kasyifatus Saja)(1)

Makna hauqalah terdapat ragam penafsiran dari para ulama. Penafsiran tersebut disampaikan satu persatu oleh Syekh Abul ‘Ala al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) dalam salah satu kitabnya Tuhfatul Ahwâdzi. Di antaranya sebagaimana penafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

 قَالَ النَّوَوِيُّ هِيَ كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيْضٍ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا، وَلَيْسَ لَهُ حِيْلَةٌ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي جَلْبِ خَيْرٍ إِلَّا بِإِرَادَةِ اللهِ 

Artinya, “Imam an-Nawawi berkata: 'Kalimat hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah swt'.” (Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwâdzi bi Syarhi Jâmi’it Tirmidzi)

Masih dalam referensi yang sama, Syekh al-Mubarakfuri mengutip salah satu pendapat ulama, bahwa kalimat hauqalah memiliki makna tidak ada daya dalam menolak semua kejelekan dan tidak ada upaya untuk menarik kebaikan. Pendapat lain juga mengatakan, bahwa maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindar dari bermaksiat kepada Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, kecuali atas pertolongan-Nya.(2)

Dari kalam para ulama di atas kita bisa memetik hikmah bahwa salah satu kalimat agung yang bisa kita amalkan untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT adalah kalimat hauqalah.

Jadi ketika itu saya berniat ingin membelikan istri saya sebuah sepeda listrik sebagai sarana transportasi untuk aktifitas istri sebagai seorang ibu rumah tangga dengan berbagai kegiatannya seperti mengaji, antar-jemput anak sekolah/les, berbelanja dan lain-lain. Alasan saya memilih sepeda listrik karena selain harganya yang terjangkau, hemat biaya perawatan dan bahan bakar juga bisa digunakan secara legal oleh istri yang tidak memiliki SIM. Setelah melakukan riset kecil-kecilan akhirnya saya menetapkan pilihan sepeda listrik dengan merk dan tipe tertentu yang cukup memadai untuk segala kebutuhan istri. PR selanjutnya adalah menabung karena walaupun harganya lebih terjangkau dibandingkan harga sebuah motor, tapi saat itu saya tidak memiliki simpanan uang untuk membelinya tapi saya optimis dengan perkiraan sekitar 6 bulan menabung dengan jumlah nominal tertentu perbulannya saya bisa membeli sepeda listrik tersebut. Setelah 2 bulan menabung dengan sangat susah payah di bulan ke-3 ternyata pengeluaran sangat banyak melebihi biasanya sampai saya harus menggunakan uang yang sudah saya sisihkan 2 bulan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat itu di suatu siang saya sampai termenung memikirkannya, "Kok bisa ya penghasilan bulan ini habis sampai tak tersisa sampai saya harus menggunakan tabungan saya sebelumnya, jangankan membeli sepeda listrik untuk kebutuhan bulan ini saja saya tidak tahu bisa cukup atau tidak?". Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan riyadhoh nanti malam, riyadhoh apa? entahlah nanti saya coba cari tahu. Sorenya saat sudah tiba di rumah saya browsing untuk menentukan akan riyadhoh apa nanti malam dan menemukan sebuah hadits tentang khasiat zikir hauqolah dan memutuskan untuk segera mengamalkannya. Setelah selesai mendirikan sholat ashar dan berzikir seperti biasa, saya berdoa meminta rezeki kepada Allah, hanya doa biasa dengan bahasa Indonesia tapi doa itu serasa keluar dari hati yang tulus setelah itu saya lanjutkan dengan berzikir hauqolah sebanyak 100 kali sambil saya hayati maknanya, setelahnya hati saya terasa tenang, saking tenangnya saya sampai membatalkan niatan saya untuk melakukan riyadhoh. Esok paginya keajaiban terjadi, saya diberi kabar kalau bonus saya selama 3 bulan sudah ditransfer, subhanallah walhamdulillah, dan jumlahnya lebih dari cukup untuk menutupi kebutuhan saya sampai akhir bulan dan membeli sepeda listrik. Alhamdulillah, akhirnya sepeda listrik itupun terbeli.

Pengalaman berikutnya kejadiannya tidak lama setelah pengalaman yang saya ceritakan sebelumnya. Istri saya mendaftarkan anak kedua saya disebuah sekolah swasta Islam yang termasuk favorit dan untuk mendaftarnya harus 1 tahun sebelumnya karena saking banyaknya peminatnya. Setelah melewati tes akademik dan tes psikologi anak saya dinyatakan lulus diterima di sekolah tersebut dan kami mendapatkan kabar dari pihak sekolah kalau uang pendaftarannya harus dibayar sebelum tanggal tertentu bila tidak anak saya bisa tergeser oleh peminat yang lain. Mendekati tanggal yang ditentukan tapi belum ada tanda-tanda saya mendapatkan uangnya. Saya membatin, "Ya Allah jadikan saya berharap hanya kepadaMu, saya malu untuk meminta kepada orang lain.". Setelah sholat ashar dan berzikir seperti biasa, saya membaca 3 kali doa rezeki yang pernah diajarkan Rasulullah SAW kepada sayyidina Ali bin Abi Tholib, yaitu,


اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ


Allâhummakfinî bi halâlika ‘an harâmik, wa aghninî bi fadhlika ‘amman siwâk

Artinya, “Wahai Tuhanku, cukupilah diriku dengan jalan (harta) yang Kau halalkan, bukan jalan (harta) Kau haramkan; dan kayakanlah diriku dengan kemurahan-Mu, bukan kemurahan selain diri-Mu.”

dan disetiap akhir doa tersebut saya tambahkan lagi bacaan asmaul husna:

يا الله، يا رزاق، يا وه‍اب

Ya Allahu, Ya Razzaqu, Ya Wahhabu

Artinya, "Wahai (Tuhan) Allah, Wahai Maha Pemberi Rezeki, Wahai Maha Pemberi"

setelah membaca doa itu saya bertawassul dengan membaca kalimat,

Bi karomati la hawla wa la quwwata illabillahil 'aliyyil 'azhim

artinya, "Dengan kemuliaan (kalimat) la hawla wa la quwwata illabillahil 'aliyyil 'azhim"

kemudian dilanjutkan membaca kalimat hauqalah sebanyak 100 kali dengan memaknai artinya. Alhamdulillah wa syukrulillah, keajaiban terjadi lagi, setelah maghrib saya mendapatkan transferan uang yang cukup untuk membayar pendaftaran sekolah anak saya.

Alhamdulillah, saya menceritakan kisah dari pengalaman ini dalam rangka tahadduts bin ni'mah dan semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran dan motivasi bagi orang lain.

Wallahu a'lam bisshawab.






Selasa, 25 April 2023

Doa ismul 'azhom + sholawat + sapujagad

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.

Allahumma inni as-aluka bi-anna lakal hamd, la ilaha illa antal-mannan badi’us samawati wal ardh, ya dzal jalali wal ikram, ya hayyu ya qayyum.

artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian hanya milik-Mu, tiada tuhan selain Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri.

(HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa'i)¹

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allâhumma innî as’aluka bi annî asyhadu annaka antallâhu, lâ ilâha illâ antal ahadus shomad, alladzî lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakullahû kufuwan ahad.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Tempat Bergantung semua makhluk, Yang tiada beranak serta tiada diperanak dan tiada sesuatupun yang setara denganNya."

(HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)²

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ

Allahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad."

(HR. An-Nasa'i).

اللَّهُمَّ/رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma/Robbana atina fid dun-ya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qina ‘adzaban nar

Artinya: "Ya Allah/Tuhan kami, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka"

(HR. Bukhari, Muslim dan QS. Al Baqoroh: 201)

--------------------------------------------------
1. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa beliau pernah duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara ada orang yang shalat kemudian orang ini membaca kalimat,

"Allahumma inni as-aluka bi-anna lakal hamd, la ilaha illa antal-mannan badii’us samawati wal ardh, ya dzal jalali wal ikram, ya hayyu yaa qayyum."

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

"Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkannya dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi permintaannya." 
(HR. Ahmad 12946, Abu Daud 1497, an-Nasa'i 1308)

2. Dinyatakan dalam hadis dari Buraidah bin Hashib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar ada orang yang membaca kalimat
,

"Allâhumma innî as’aluka bi annî asyhadu annaka antallâhu, lâ ilâha illâ antal ahadus shomad, alladzî lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakullahû kufuwan ahad."

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh orang ini telah meminta kepada Allah dengan nama Allah yang paling agung, dimana ketika seseorang berdoa dengan menyebut nama itu maka doanya akan di ijabah dan apabila dia meminta kepada Allah dengan menyebut nama itu maka dia akan diberi."
(HR. Ahmad 23654, Abu Daud 1495, at-Tirmidzi 3812)


Rabu, 05 April 2023

Doa rezeki pendek

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur'an, surat Nuh ayat 10 - 12: 

"Maka aku (Nuh) berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu."

maka dari ayat tersebut dapat kita ambil pelajaran yaitu eratnya hubungan antara istighfar dan rezeki. Salah satu doa yang bisa kita amalkan untuk meminta rezeki yang bersumber dari hadits Nabi SAW di antaranya adalah doa yang dibaca saat duduk di antara dua sujud saat sholat:

"Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii"

artinya: Ya Tuhan ampunilah aku, sayangilah aku, perbaikilah aku, tinggikanlah derajatku, berikanlah aku rezeki dan berikanlah aku petunjuk. (HR. Ahmad)

berdasarkan redaksi dari hadits tersebut kita bisa meringkas doa tersebut menjadi lebih pendek sehingga lebih mudah untuk di baca setiap saat, menjadi:

"Robbighfirlii warzuqnii"

artinya: Ya Tuhan ampunilah aku dan berikanlah aku rezeki.

note: saya dapat ilham untuk menambahkan kata "aamiin" di setiap akhir doa, sehingga di baca:
"Robbighfirlii warzuqnii aamiin"

Jumat, 31 Maret 2023

Sudut pandang spiritual sebagai seorang hamba terhadap zikir asmaul husna: Ya Allahu Ya Rozzaqu Ya Wahhab

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil'alamin. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallim.

Saat berzikir dengan nama-namaNya (asmaul husna), yang merupakan salah satu bentuk pujian bagi Tuhan Semesta Alam, yang Dia pilih bagi diriNya sendiri, maka dengan kita mengetahui makna dari namaNya dan kemudian menempatkan dalam pandangan spiritual yang pantas bagi kita sebagai makhlukNya maka kita akan bisa lebih merasakan nuansa spiritual, seperti khouf (rasa takut) dan roja' (harapan), dalam hati kita saat berzikir kepadaNya.

Salah satu bentuk bacaan zikir dengan asmaul husna adalah, "Ya Allahu, Ya Rozzaqu, Ya Wahhab" yang dimana dalam bacaan zikir tersebut kita memanggil beberapa namaNya, yaitu:

Allah: Adalah nama Tuhan yang paling utama, nama yang mencakup segalanya, yang dengan nama itu Dia ingin dikenal oleh makhlukNya melalui kabar yang telah disampaikan oleh para Nabi dan MalaikatNya.

Ar Rozzaq: Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Al Wahhab: Dzat Yang Maha Pemberi Karunia.

Saat kita memanggil "Ya Allah" maka kita mengakui bahwa kita hanyalah seorang makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, kita hanyalah makhluk yang sangat lemah dan tak mampu berbuat apa apa selain apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan segala harapan kita tertuju kepada Tuhan Pemilik Nama Tersebut.

Saat kita memanggil "Ya Rozzaq" kita mengakui bahwa pada hakikatnya Allah adalah satu-satunya yang mampu memberi rezeki kepada kita, bukan hasil dari usaha kita sendiri ataupun pemberian dari makhlukNya yang lain karena setiap makhlukNya pasti juga menerima rezeki dariNya. Tanpa rezeki dariNya maka kita tidak akan bisa hidup dan sadarilah bahwa kita sangatlah membutuhkan dan bergantung dengan rezeki dari Ar Rozzaq, Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Saat kita memanggil "Ya Wahhab" kita mengakui bahwa semua yang ada pada diri kita adalah murni pemberian dariNya, dari sejak kita di ciptakan sampai sekarang hingga nanti. Kita sebagai makhluk tidak akan mampu untuk membalas pemberianNya dan kodrat kita sebagai makhlukNya hanyalah mampu meminta kepadaNya dan menerima apapun yang telah di anugerahkan kepada kita dari Al Wahhab, Tuhan Yang Maha Pemberi Karunia.

Semoga dengan menerapkan sudut pandang spiritual sebagai seorang hamba dan makhluk kita akan bisa lebih khusyuk ketika berzikir kepadaNya, karena kita adalah ciptaanNya, kita adalah Abdullah, Abdur Rozzaq dan Abdul Wahhab.

Sebagai tambahan, ada sedikit pengalaman saya tentang zikir asmaul husna ini. Saat itu masih di awal-awal tahun pernikahan kami, saya sempat tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan anak pertama kami yang sudah habis seperti susu formula dan pampers. Padahal kami berdua sama-sama bekerja saat itu tapi entah kenapa penghasilan kami berdua cepat sekali habis. Istri sudah mengingatkan saya berkali-kali kalau susu dan pampers anak sudah habis, saya cuma bisa jawab, "iya" tapi sejujurnya saya juga bingung uang dari mana? Saat itu di hari Jum'at saya mencoba mengamalkan zikir asmaul husna ini sebanyak 1000 kali. Esoknya di hari sabtu saya menanti dengan harap-harap cemas tapi belum ada tanda-tanda saya mendapatkan rezeki dan istri saya lagi-lagi sudah menanyakan hal yang sama, malamnya saya berzikir lagi dengan asmaul husna ini. Hari Minggu juga sama, saya sudah pesimis tapi saya tidak punya harapan lain selain kepada Allah Ar Rozaq Al Wahhab jadi saya tetap berzikir dengan asma ini malamnya. Hari seninnya saat saya berkunjung ke rumah orang tua, kebetulan ada almarhumah nenek saya yang lagi berkunjung ke rumah orang tua saya dan beliau sudah menginap di sana sekitar seminggu, hari itu beliau ingin pulang ke kota asalnya di Yogyakarta dan saat pamitan beliau memberikan amplop untuk saya dan cincin emas untuk istri saya. Alhamdulillah, masya Allah, rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka itu benar adanya, ketika saya cek isi amplopnya masya Allah ternyata nenek saya memberikan uang yang cukup banyak, yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan anak kami, terima kasih banyak mbah, alfatihah ila ruhi mbah Sujinah binti Karyorejo.

Sabtu, 17 September 2022

Rangkaian doa dari Al Qur'an

Al qur'an di turunkan sebagai sebaik-baik petunjuk dari Tuhan Semesta Alam. Di dalamnya banyak kisah dan doa-doa yang Allah telah tunjukkan kepada kita sebagai wasilah untuk meminta kepadaNya.

di antaranya adalah:

1. doa nabi Yunus AS:

Laa ilaaha illaa anta. Subhanaka inni kuntu minazzholimin. (QS: al anbiya ayat 87)

artinya: Tiada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang orang yang zalim.

2. doa nabi Musa As

Robbi inni zholamtu nafsii faghfirlii (QS: al qoshosh ayat 16)

artinya: Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri maka ampunilah aku.

3. doa nabi Musa As

Robbi inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir. (QS: al qoshosh ayat 25)

artinya: Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

Kamis, 09 Juni 2022

Tafsir ayat 1000 Dinar (Surah at-thalaq ayat 2-3)

 

Surah at-Thalaq ayat 2-3
 

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepadaku Kahmas ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Abus Salil, dari Abu Zar yang mengatakan bahwa,

Rasulullah Saw. membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3), hingga akhir ayat. Kemudian beliau Saw. bersabda: "Hai Abu Zar, seandainya semua manusia mengamalkan ayat ini, niscaya mereka akan diberi kecukupan". Abu Zar melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah Saw. membaca ayat ini berulang-ulang kepadanya hingga ia merasa mengantuk.

-----------------------------------------------------------------------

Dan ayat yang paling besar mengandung jalan keluar dalam Al-Qur'an adalah firman Allah Swt.: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2)

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Mahdi ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Al-Wa!id ibnu Muslim, dari Al-Hakam ibnu Mus'ab, dari Muhammad ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abdullah ibnu
Abbas) yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"Barang siapa yang memperbanyak bacaan istigfar, maka Allah akan mengadakan baginya dari setiap kesusahan pemecahannya dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Bahwa Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan di dunia dan akhirat. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 3)

Ar-Rabi' ibnu Khaisam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Maksudnya, jalan keluar dari setiap perkara yang menyempitkannya, yakni menyusahkannya.

Ibnu Mas'ud dan Masruq mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Yakni dia mengetahui bahwa jika Allah menghendaki, niscaya memberi­nya; dan jika Allah tidak menghendaki, niscaya Dia mencegahnya. "dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 3) Maksudnya, dari arah yang tiada diketahuinya.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Ath-Thalaq: 2) Yaitu dari semua kesulitan urusannya dan kesusahan di saat menjelang kematiannya. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq:3) Yakni sesuai dengan apa yang dicita-citakannya, tetapi tidak terlintas dalam benaknya akan dapat diraih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah ibnu Isa, dari Abdullah ibnu Abul Ja'd, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Sesungguhnya seseorang hamba benar-benar tersumbat rezekinya disebabkan suatu dosa yang dilakukannya. Dan tiada yang dapat menolak takdir selain doa. Dan tiada yang dapat menambah usia selain dari kebaikan."

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Malik Al-Asyja'i datang kepada Rasulullah Saw., lalu melaporkan kepada beliau bahwa salah seorang anaknya yang bernama Auf ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:

"Sampaikanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya Rasulullah menganjurkan kepadamu untuk memperbanyak ucapan, 

  لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

(Laa hawla walaa quwwata illaa billaah)

'Tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah) kecuali dengan (pertolongan) Allah.”

Tersebutlah bahwa kaum musyrik telah mengikat anak Malik itu pada sebuah tiang, lalu tiang itu roboh dan ia dapat melepaskan diri dari ikatannya. Maka ia keluar melarikan diri. Tiba-tiba ia menjumpai seekor unta milik mereka, maka ia langsung menaikinya dan memacunya. Ketika di tengah jalan ia menjumpai sekumpulan ternak yang banyak jumlahnya milik kaum yang telah menawannya dan yang telah mengikatnya. Lalu ia menggiring ternak unta itu hingga semua ternak unta lari mengikutinya tanpa ada seekor unta pun yang tertinggal.

Tiada yang mengejutkan kedua orang tuanya kecuali seruan anaknya di depan pintu rumah mereka. Maka ayahnya berkata, "Dia Auf, demi Tuhan yang memiliki Ka'bah." Dan ibunya berkata, "Waduh, hebatnya si Auf, padahal dia telah diikat pada tiang oleh musuhnya." Lalu keduanya berebutan menuju ke pintu rumah dan juga pelayan keduanya, tiba-tiba mereka melihat Auf telah tiba dengan membawa ternak unta yang memenuhi halaman rumah mereka. Kemudian Auf menceritakan kepada kedua orang tuanya nasib yang dialaminya dan perihal ternak unta yang dibawanya itu. Maka ayahnya berkata, "Tahanlah sikapmu berdua, aku akan menghadap terlebih dahulu kepada Rasulullah Saw. untuk menanyakan apa yang harus kita lakukan dengan ternak unta ini." Ayahnya datang menghadap kepada Rasulullah Saw., lalu menceritakan kepadanya berita tentang Auf anaknya dan ternak unta yang dibawanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Berbuatlah sesuka hatimu dengan ternak unta itu, ternak unta itu sekarang telah menjadi milikmu. Lalu turunlah firman Allah Swt. yang mengatakan: "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3)

Firman Allah Swt.:
"Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq: 3)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Hajjaj, dari Hanasy As-San'ani, dari Abdullah ibnu Abbas yang telah menceritakan kepadanya bahwa di suatu hari ia pernah dibonceng di belakang Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: "Hai para pemuda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat (yaitu), peliharalah (batasan-batasan) Allah, niscaya Dia akan memeliharamu. Ingatlah selalu Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Dan apabila kamu memohon, mohonlah kepada Allah; dan apabila kamu meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa umat ini seandainya bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan mudarat terhadap dirimu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudarat terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah akan menimpa dirimu. Qalam telah diangkat dan semua lembaran telah kering (takdir telah ditetapkan)."
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Lais ibnu Sa'd dan Ibnu Lahi'ah dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Basyir ibnu Sulaiman, dari Sayyar Abul Hakam, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "Barang siapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu ia menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan bahwa keperluannya itu tidak dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang menyerahkan keperluannya kepada Allah Swt., maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki yang segera atau memberinya kematian yang ditangguhkan (usia yang diperpanjang)."
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Abdur Razzaq, dari Sufyan, dari Basyir, dari Sayyar alias Abu Hamzah. Selanjutnya Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad inilah yang benar, karena Sayyar Abul Hakam belum pernah meriwayatkan hadis dari Tariq. 

Firman Allah Swt.:
"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya." (Ath-Thalaq: 3)
Yakni melaksanakan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum-Nya terhadap makhluk-Nya menurut apa yang dikehendaki dan yang diinginkan-Nya.

Firman Allah Swt.:
"Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
"Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya." (Ar-Ra'd: 8)

------------------------------------------------------------------------

Istighfar 70x/100x

hawqolah 100x

ayat seribu dinar 

Selasa, 26 April 2022

makna atau arti dari kalimat zikir "la haula wa la quwwata illa billah"

Kalimat zikir "la haula wa la quwwata illa billah" bila di terjemahkan atau artikan ke dalam bahasa Indonesia sering di artikan "Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah" atau bila di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "There is no power and no strength except with Allah" 

sebenarnya tidak ada kalimat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang benar-benar bisa mengartikan kalimat zikir tersebut secara tepat dikarenakan keterbatasan kekayaan kosa kata kalimat bahasa Indonesia atau bahasa Inggris di bandingkan dengan kalimat bahasa Arab. 

Salah satu kelemahan dalam terjemahan tersebut adalah, apakah beda makna daya dan kekuatan dalam terjemah kalimat zikir tersebut? padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daya dan kekuatan memiliki makna yang sama. Jawabannya, sebenarnya penggunaan kata daya dan kekuatan hanya untuk membedakan terjemahan kata haula (hawla) dan quwwata dari bahasa Arab. Makna haula dan quwwata itu maknanya hampir mirip, tapi yang satu bersifat menolak/menghindari dan yang satu lagi bersifat menarik/mendatangkan.

Sebagian para ulama memaknainya "Tiada kekuatan untuk menolak keburukan/maksiat dan tiada kekuatan untuk menarik kebaikan/keta'atan kecuali dengan pertolongan Allah"

Penafsiran tersebut disampaikan satu persatu oleh Syekh Abul ‘Ala al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) dalam salah satu kitabnya Tuhfatul Ahwâdzi. Di antaranya sebagaimana penafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi: 'Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, tidak ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah swt'.” (Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwâdzi bi Syarhi Jâmi’it Tirmidzi, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 2000], juz IX, halaman 301). 

Masih dalam referensi yang sama, Syekh al-Mubarakfuri mengutip salah satu pendapat ulama, bahwa kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah memiliki makna tidak ada daya dalam menolak semua kejelekan dan tidak ada upaya untuk menarik kebaikan. Pendapat lain juga mengatakan, bahwa maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindar dari bermaksiat kepada Allah dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, kecuali atas pertolongan-Nya.

Begitu juga menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, tidak jauh berbeda dengan beberapa makna yang telah disebutkan sebelumnya. Menurutnya, makna kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah tidak ada yang memiliki daya untuk bisa menghindar dari maksiat kecuali dengan adanya penjagaan dari Allah, dan tidak ada yang memiliki kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali mendapatkan taufiq dari Allah swt. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bâri, [Beirut, Dârul Ma’rifah: 1999], juz XI, halaman 500).

Sumber


Senin, 12 Oktober 2020

Wirid

Ba'da Sholat 5 waktu.

Setelah wirid yang umum ba'da sholat 5 waktu

-Ayat Kursi (QS 2:255) 1x

-Tasbih 10x, Tahmid 10x, Takbir 10x.

-Basmalah (QS 1:1) 1x

-Niat (Boleh diucapkan, boleh dalam hati)

"Ya Allah, saya berniat membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW untuk:

1. Menjalankan PerintahMu ya Allah

2. Memenuhi haknya baginda Nabi Muhammad SAW

3. Agar mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad SAW

4. Sebagai wasilah untuk terkabulnya hajat-hajatku, yaitu (sebutkan hajatnya)"

-Basmalah (QS 1:1) 1x

-Hamdalah (QS 1:2) 1x

-Sholawat Jibril (Shollallah 'alaa Muhammad) 100x (Shollallahu 'alaihi wa sallam) 1x

-Robbi inni zholamtu nafsii faghfirli (QS 28:16) Robbi inni limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir (QS 28:24) Robbisy rohli shodri wa yassirli amri (QS 20:25-26) 7 x

-Robbanaa aatinaa fid dun yaa hasanah wafil aakhiroti hasanah waqinaa adzaaban naar (QS 2:201) 1x

-Sholawat dan hamdalah (Wa shollallahu 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa sallam walhamdulillahi robbil 'aalamiin) 1x

-Al fatihah (QS 1:1-7) 1x

- Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin 1x

Jumat, 22 November 2019

Pengalaman menangani kesurupan

Sekitar tahun 2011 atau 2012, saya ama istri pernah liburan ke taman safari di bogor saat plg dr taman safari mampir makan malam dulu di daerah blok m, disitu istri saya tau2 nangis, saya bacain surat an nas dan al falaq tp ga ada pengaruh apa2. Sampe rmh saya baca2in lagi pake sholawat dan zikir ratib al haddad dan al athos, setiap sampe kalimat bacaan tertentu jinnya nangis tapi pas udah ganti bacaan lain jinnya ketawa terus ngedorong saya sambil ngomong "apaan sih".. jirr asli bikin kita ngedown.. akhirnya saya memutuskan utk sholat isya abis sholat saya berdoa pake bahasa indonesia yg isinya doanya saya pasrah ama Allah, saya akui segala kesalahan saya dan istri, dan menyatakan kalau saya itu lemah dan ga punya daya apa2 dan sangat butuh pertolongan dari Allah, intinya saya curhat dalam doa saya. Kemudian doa saya tutup dgn zikir la hawla wala quwwata illa billah sambil saya resapi makna kalimat zikir tersebut. Selesai berdoa saya bangun dari sajadah kemudian saya coba bangunkan istri saya mengingatkan untuk sholat isya, eh kagetnya istri saya ngerespon saya dan ternyata istri saya sudah sadar dari kesurupannya. Pas saya tanya dia sadar ga pas saat kesurupan dia bilang ga inget apa2..
Hikmahnya yg saya ambil dari pengalaman itu bahwa kita manusia itu lemah, bacaan zikir dan doa apapun itu hanyalah alat untuk ingat kepada Allah. Jangan menganggap doa dan bacaan zikir yg kita baca yg hebat tapi lupa kepada yg di zikiri yaitu Allah SWT.
Wallahu a'lam. 🙏

Senin, 16 September 2019

La ilaha illallah

La ilaha illallah

"Tiada Tuhan Selain Allah"

Menurut Abdullah Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, La ilaha illallah bermakna tiada yang bisa mendatangkan manfaat atau bahaya kecuali Allah, tiada yang bisa memuliakan atau menghinakan kecuali Allah, tiada yang bisa memberi atau mencegah kecuali Allah.

Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?“ Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS AL MAIDAH: 76)

Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami“. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (QS AL ANAM: 71)

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di sisi Allah“. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?“ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS YUNUS: 18)

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim“. (QS YUNUS: 106)

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?“ Jawabnya: “Allah“. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?“. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?“ Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa“. (QS AR RAD: 16)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? (QS THAHA: 89)

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?“ (QS AL ANBIYA: 66)

Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS AL HAJJ: 12)

Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. (QS AL FURQAN: 3)

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (QS AL FURQAN: 55)

Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?
atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?“ Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?
Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam, (yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”
(QS ASY SYUARA: 72 - 82)



Selasa, 20 Agustus 2019

Hasbunallah wa ni'mal wakil

Hasbunallah wa ni'mal wakil

Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik Pemelihara

Kalimat 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' dibaca oleh Nabi Ibrahim saat beliau dilempar oleh raja Namrudz yang kafir ke dalam api besar untuk membakarnya
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muktamar bin Sulaiman At Taimy, dari sebahagian sahabatnya, “Malaikat Jibril datang kepada Nabi Ibrahim saat terikat menjelang dilempar ke api yang besar dan berkata, 'Wahai Ibrahim, apakah kamu perlu bantuan?'
Nabi Ibrahim menjawab, 'Adapun bila kepadamu wahai Jibril maka aku tidak memerlukan bantuan'. 
Lalu Nabi Ibrahimpun dilempar ke dalam api yang besar tersebut. Saat dilempar Nabi Ibrahim mengucapkan 'Hasbunallah wa ni'mal wakil' dan dengan Izin Allah maka api itu berubah menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim.
(Kitab Fathul Qodir, Imam Asy Syaukani)

'Hasbunallah wa ni'mal wakil' adalah kalimat yang juga di baca oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ketika 
Rasulullah dan para sahabatnya, yang dalam keadaan terluka setelah perang Uhud, kembali ke Madinah. Datanglah berita untuk menakut-nakuti beliau bahwa pasukan Quraisy lengkap dengan segala kekuatannya telah berkumpul dan siap untuk menyerang mereka.
Maka Rasulullah dan para sahabatnya mengucapkan 'Hasbunallah wa ni'mal wakil'. Rasulullah mengumpulkan semua pasukan yang sedang terluka untuk balik menyerang pasukan kafir Quraisy. Mereka menyusul sampai ke Badar dan Hamra’ul Asad tetapi pasukan kafir Quraisy telah lebih dahulu lari ke Makkah karena takut oleh Rasulullah dan pasukannya.
(Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabary dan HR Bukhari)

Kalimat ini pulalah yang diucapkan oleh ‘Aisyah, isteri Rasulullah saw, saat beliau tertinggal dari rombongan Rasulullah sepulang dari peperangan bani Musthaliq.
Beliau tertinggal rombongan kemudian diantar pulang oleh Shafwan bin Mu’aththal ke Madinah. Akibatnya peristiwa itu menjadi fitnah besar di Madinah.
Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan bahwa Zainab ra dan ‘Aisyah ra saling membanggakan kemulian mereka. Zainab berkata, “Akulah yang pernikahannya (dengan Rasulullah), perintahnya langsung dari langit”. ‘Aisyah ra menimpali, “Akulah yang pembersihan nama baikku turun di dalam Al Quran, ketika aku dibawa oleh Ibnu Mu’aththal menunggang unta”. Zainab ra bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apakah kalimat yang kamu ucapkan saat naik unta tersebut?”. ‘Aisyah ra menjawab, 'Hasbiyallah wa ni'mal wakil' (Cukuplah bagiku Allah, sebaik-baik Pemelihara). Maka selamatlah ‘Aisyah ra dari fitnah besar yang sangat buruk tersebut.
(Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabary)

kalimat ini pula yang diucapkan oleh panglima perang Sa’ad bin Abi Waqqas, ketika akan menyeberang sungai Dijlah hendak menyerang dan merebut Persia.
“Ketika pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan sahabat yang mulia Sa’ad bin Abi Waqqas hendak menyerang Persia, mereka berhadapan dengan sungai Dijlah. Dan semua pasukan belum pernah selama ini bertemu dengan sungai. Maka Sa’ad bin Abi Waqqas mengajak dan memerintahkan pasukannya masuk ke sungai untuk menyeberang ke Persia.
Beliau perintahkan pasukannya ketika akan masuk ke air sungai untuk mengucapkan:
'Nasta’inu billah, wa natawakkalu ‘alaih, hasbunallah wa ni'mal wakil, wa laa haula wa laa quwwata illa billahil Aliyyil ‘Azhim'
(Kepada Allah kita minta tolong dan kepadanya kita berserah, cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik Pemelihara, tiada daya dan upaya melainkan dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).
Maka masuklah mereka ke dalam sungai semuanya. Tidak satupun yang tertinggal atau mundur. Mereka berjalan seolah-olah di atas tanah. Seluruh permukaan air penuh dengan kuda dan pasukan. Sampai-sampai air sungai dijlah tak terlihat lagi. Mereka berbicara di atas permukaan air bagaikan berbicara di atas tanah.
Yang demikian itu karena mereka sangat nyaman dan tenang serta yakin dengan pertolongan Allah. Dan karena panglima perang mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqas, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk syurga. Tak satupun diantara pasukan itu yang tenggelam, kecuali seorang lelaki yang bernama Ghardaqah Al Bariqi, karena terjatuh dari kudanya. Tapi kemudian diselamatkan oleh Qa’qa’ bin Amr.
(Kitab al Bidayah wan Nihayah, Imam Ibnu Katsir)

Diriwayatkan oleh Abu sa’id, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Bagaimana engkau bisa bersenang-senang? sementara Malaikat peniup sangkakala telah memasukkan sangkakala ke mulutnya dan telah siap bila sewaktu waktu mendengar perintah untuk meniupnya. Hal itu membuat risau para sahabat Rasulullah. Maka Beliau memerintahkan mereka, 'Bacalah, Hasbunallah wa ni'mal wakil ‘alallahi tawakkalna (Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik Pemelihara, kepadaNyalah kami berserah).”
(HR Tirmidzi)

Asma “Al-Wakil” mengandung arti Yang Maha Pemelihara, Yang Maha Mengurus, Yang Maha Mewakili. Al-Wakil yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala yang memelihara, menjaga dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia yang memelihara dan mengurus segala sesuatu yang dipasrahkan oleh hambaNya tanpa membiarkannya terbengkalai.

Dalam ajaran islam dikenal sebuah konsep yang dinamakan Tawakal atau tawakkul yang berarti mewakilkan atau menyerahkan. Tawakal berarti berserah atau berpasrah diri sepenuhnya kepada Allah Al-Wakil dan percaya sepenuh hati kepada kehendak Allah.

Hasbunallah wa ni'mal wakil, bila dimaknai dengan bahasa keseharian, maka bisa di maknai "Cukuplah hanya Allah saja sebagai penolong kami, Dia adalah yang sebaik-baik mengurus segala urusan kami." Segala urusan itu mencakup urusan hidup, mati, jodoh, rezeki, keselamatan dan semua urusan yang di luar kemampuan kita sebagai makhluk untuk mengaturnya.

Tawakal adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah swt setelah berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuannya.

Dalam sebuah hadits, Seseorang berkata kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku lepaskan saja untaku kemudian aku bertawakkal?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkal kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Jumat, 24 Mei 2019

Robbighfirli


Dalam Qur'an Surat Shod ayat 35. Nabi Sulaiman as berdoa kepada Allah di awali dengan kalimat istighfar "Rabbighfirli"
"Rabbighfirlii wahablii mulkan laa yanbaghii li-ahadin min ba’dii innaka antal wahhaabu."
Artinya:
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi."

Rabu, 24 April 2019

Hamdalah, Istighfar & Hauqolah


Abu Hurairah ra meriwayatkan, 
Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang Allah pakaikan baginya kenikmatan hendaklah banyak mengucapkan alhamdulillah. Barang siapa yang banyak dosanya hendaklah beristighfar kepada Allah. Barang siapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (HR. Al-Thabrani)

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa dikaruniai Allah kenikmatan hendaklah dia bertahmid (memuji) kepada Allah dan barangsiapa merasa diperlambat rezekinya hendaklah dia beristighfar kepada Allah. Barangsiapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah mengucapkan la hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)." (HR. Al-Baihaqi)

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)." (QS. An Nahl: 53)

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." (QS. An Nahl: 114).

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (QS. Adh Dhuha: 11)

"Ingatlah kepadaKu, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepadaKu, janganlah kalian kufur." (Qs. Al Baqarah: 152)



"Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS Ibrahim: 7)

"Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 145)


"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An Nahl: 18)


"Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh: 10-12)

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian) Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (dan terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (QS. Hud: 3)

Rasulullah saw bersabda,"Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad, Abu dawud, Ibnu Majah)

Rasulullah saw bersabda,"Sesungguhnya seseorang hamba benar-benar tersumbat rezekinya disebabkan suatu dosa yang dilakukannya. Dan tiada yang dapat menolak takdir selain doa. Dan tiada yang dapat menambah usia selain dari kebaikan." (HR. Ahmad)

"Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath-Thalaq: 2-3)

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa, 
"Malik Al-Asyja'i datang kepada Rasulullah Saw, lalu melaporkan kepada beliau bahwa salah seorang anaknya yang bernama Auf ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya, 'Sampaikanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya Rasulullah menganjurkan kepadamu untuk memperbanyak ucapan la hawla wala quwwata illa billah' (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Tersebutlah bahwa kaum musyrik telah mengikat anak Malik itu pada sebuah tiang, lalu tiang itu roboh dan ia dapat melepaskan diri dari ikatannya. Maka ia keluar melarikan diri. Tiba-tiba ia menjumpai seekor unta milik mereka, maka ia langsung menaikinya dan memacunya. Ketika di tengah jalan ia menjumpai sekumpulan ternak yang banyak jumlahnya milik kaum yang telah menawannya dan yang telah mengikatnya. Lalu ia menggiring ternak unta itu hingga semua ternak unta lari mengikutinya tanpa ada seekor unta pun yang tertinggal.
Tiada yang mengejutkan kedua orang tuanya kecuali seruan anaknya di depan pintu rumah mereka. Maka ayahnya berkata, 'Dia Auf, demi Tuhan yang memiliki Ka'bah.' Dan ibunya berkata, 'Waduh, hebatnya si Auf, padahal dia telah diikat pada tiang oleh musuhnya.' Lalu keduanya berebutan menuju ke pintu rumah dan juga pelayan keduanya, tiba-tiba mereka melihat Auf telah tiba dengan membawa ternak unta yang memenuhi halaman rumah mereka. Kemudian Auf menceritakan kepada kedua orang tuanya nasib yang dialaminya dan perihal ternak unta yang dibawanya itu. Maka ayahnya berkata, 'Tahanlah sikapmu berdua, aku akan menghadap terlebih dahulu kepada Rasulullah Saw. untuk menanyakan apa yang harus kita lakukan dengan ternak unta ini.' Ayahnya datang menghadap kepada Rasulullah Saw, lalu menceritakan kepadanya berita tentang Auf anaknya dan ternak unta yang dibawanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda, 'Berbuatlah sesuka hatimu dengan ternak unta itu, ternak unta itu sekarang telah menjadi milikmu.' Lalu turunlah firman Allah SWT yang mengatakan, 'Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3)

Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa mengucapkan la hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung) sebanyak seratus kali setiap hari maka tidak akan tertimpa kefakiran selamanya." (HR. Ibn Abi Al-Dunya)

Minggu, 17 Maret 2019

Astaghfirullah...

Astaghfirullaah...
Astaghfirullaah...
Astaghfirullaah...

Ampuni aku Ya Allah atas lalainya hati ini dari mengingatMu...

Ampuni aku Ya Allah atas segala kesalahan yang kuperbuat saat beribadah kepadaMu...

Ampuni aku Ya Allah atas kebodohan dan kemalasanku...

Ampuni aku Ya Allah karena telah sombong merasa diri ini hebat...

Ampuni aku Ya Allah karena merasa diri ini tidak pernah berdosa kepadaMu...

Ampuni aku Ya Allah karena tidak bisa mengingat dosa-dosa yang pernah kuperbuat kepadaMu...

Ampuni aku Ya Allah atas segala perbuatan burukku terhadap makhluk-makhlukMu...

Ampuni aku Ya Allah atas segala lintasan pikiran burukku...

Ampuni aku Ya Allah karena tidak bersyukur atas limpahan nikmatMu...

Ampuni aku Ya Allah karena selalu mengeluh terhadap keputusan dan kehendakMu...

Ampuni aku Ya Allah karena tidak bisa merenungi keAgunganMu...

Ampuni aku Ya Allah dari kerasnya hati ini akibat banyaknya dosa...

Ampuni aku Ya Allah karena kalah oleh hawa nafsuku...

Ampuni aku Ya Allah karena kecenderunganku terhadap maksiat...

Ampuni aku Ya Allah atas segala maksiat yang pernah kuperbuat...

Ampuni aku Ya Allah atas segala perbuatanku yang bisa mendatangkan kemurkaanMu..

Ampuni aku Ya Allah karena telah menzholimi diriku sendiri dengan dosa-dosa...

Ampuni aku Ya Allah karena tidak bisa menjalankan segala perintahMu...

Ampuni aku Ya Allah karena selalu melanggar laranganMu...



Rabu, 16 Januari 2019

Amalan sholawat untuk keluasan rezeki

Begitu banyak fadilah dari sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sehingga amalan ini termasuk yang dianjurkan untuk di perbanyak oleh para ulama.
Beberapa diantara fadilah dari sholawat adalah untuk mendatangkan hajat dan meluaskan rezeki bagi pengamalnya. 
Banyak para ulama salaf yang mengabadikan kisah-kisah tentang keajaiban sholawat dalam kitab-kitab mereka agar ummat generasi selanjutnya dapat memetik hikmah dari kisah-kisah tersebut sekaligus untuk memberikan motivasi agar memperbanyak sholawat kepada nabi Muhammad SAW.
Beberapa ulama abad ini yang pernah mengisahkan pengalaman mereka tentang sholawat dan menganjurkan amalan sholawat untuk keluasan rezeki antara lain,
KH Mahrus Ali, Lirboyo
KH Bisri Musthofa, Rembang
KH Masduki Machfudz, Mergosono
Alhabib Saggaf bin Mahdi, Parung Bogor
KH Abdul Ghofur, Lamongan
Alhabib Novel Alaydrus, Solo
Ustadz Yusuf Mansur, Jakarta.
Dan banyak lagi yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu.

Berikut adalah salah satu tata cara pengamalan sholawat untuk keluasan rezeki oleh Alhabib Saggaf bin Mahdi, Parung Bogor.

Yaitu dengan membaca sholawat berikut,

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad"

Dimana sholawat tersebut dibaca sebanyak 400 kali setelah sholat isya. Mengamalkannya tidak harus sambil duduk tapi bisa di amalkan sambil beraktifitas.

Dimana beliau (habib Saggaf bin Mahdi) mendapatkan ijazah amalan sholawat ini dari salah satu guru beliau, seorang ulama yang telah mencapai tahap makrifat, di Aljazair. Menurut guru beliau siapa yang mengamalkan amalan ini seolah-olah seperti mempunyai pohon uang di depan rumahnya. 

Wallahu a'lam bis showab

Minggu, 13 Januari 2019

Zikir tasbih untuk ketenangan hati



Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang 
(Qs. Ar-Ra’du: 28)

Salah satu kalimat zikir yang dicintai oleh Allah adalah kalimat tasbih.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Ada empat ucapan yang paling disukai oleh Allah. Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) dan Allahu akbar (Allah Maha Besar). Tidak masalah bagimu dengan yang mana saja kamu mulai." (HR Muslim)

Kalimat tasbih juga termasuk dalam al-Baqiyatus Sholihah (amal kebaikan yang kekal)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebaikan yang kekal (al-Baqiyatus Sholihah) lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” 
(Qs. Al-Kahfi: 46)

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Amal kebaikan yang kekal (al-Baqiyatus Sholihah) itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu dan lebih baik kesudahannya.”
(Qs. Maryam: 76)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, 
"Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
'al-Baqiyatus Sholihah adalah La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah)Subhanallah (Maha Suci Allah)Allahu akbar (Allah Maha Besar)Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) dan La hawla wala quwwata illabillah (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)." (Hadits ini ditakhrij oleh Imam an-Nasa'i. Imam Ibnu Hibban dan Al-Hakim telah menshohihkannya)

Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ambillah perisai kalian (untuk melindungi) dari api neraka. Ucapkanlah, Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) dan Allahu akbar (Allah Maha Besar) karena kalimat-kalimat ini akan datang pada hari kiamat sebagai perisai dari arah depan dan dari arah belakang. Kalimat-kalimat ini adalah al-Baqiyatus Sholihah." (HR Hakim dan an-Nasa'i)

Abdur Razzaq mengatakan, "Telah menceritakan kepada kami Ma’mar ibnu Rasyid, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Abu Darda yang mengatakan, 'Bahwa pada suatu hari Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam duduk, lalu memungut sebatang kayu yang telah kering dan membuang dedaunannya, beliau kemudian bersabda, 'Sesungguhnya ucapan, La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah), Allahu akbar (Allah Maha Besar), Subhanallah (Maha Suci Allah) dan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) dapat menggugurkan dosa-dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan pohon (yang telah kering) ini. Wahai Abu Darda, ambillah olehmu sebelum kamu dihalang-halangi untuk dapat mengucapkan­nya. Kalimat-kalimat ini merupakan al-Baqiyatus Sholihah dan ia merupakan perbendaharaan surga." (HR Ibnu Majah)

Kalimat tasbih termasuk sedekah.
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda,
“Setiap kalimat tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, takbir (Allahu akbar) adalah sedekah, tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, tahlil (La ilaha illallah) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kepada kemunkaran adalah sedekah dan berhubungan suami istri yang halal di antara kalian adalah sedekah.” (HR Muslim)

Makna yang terkandung dalam kalimat tasbih, Subhanallah (Maha Suci Allah), adalah Allah itu suci dari segala kekurangan (sifat-sifat yang tidak layak bagiNya) dan dari segala sesuatu yang buruk yang ditujukan kepadaNya. Termasuk prasangka buruk kita sebagai makhluk ciptaanNya kepada Dia, Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Seperti, menganggap bahwa Allah telah berbuat tidak adil terhadap dia, Allah telah menyempitkan dirinya, Allah tidak menjawab doa-doanya, Allah tidak memberinya jalan keluar dan lain sebagainya. Maha Suci Allah dari segala perkataan dan persangkaan yang buruk. Saat kita berada di tengah situasi yang tidak menyenangkan, maka bertasbihlah dan hilangkan segala prasangka buruk kita kepada Allah. Sesungguhnya apapun yang terjadi maka itu adalah ketentuan dari Allah dan Allah tidak menghendaki selain kebaikan untuk kita. Dengan berprasangka baik kepada Allah berarti kita ridho dengan ketentuan Allah.

Berzikir dengan kalimat tasbih sambil menghayati makna yang terkandung di dalamnya akan memberikan pengaruh yang positif seperti ketenangan, kesejukan dan kelapangan di hati. Hati yang tenang membuat emosi menjadi stabil, pikiran menjadi jernih dan tubuh terasa ringan.

Penulis merasakan fadilah dari kalimat tasbih ini sangat mujarab untuk menenangkan hati dan meredakan emosi yang bergejolak. Kalimat tasbih ini juga sangat pendek sehingga ringan untuk di amalkan dalam kegiatan sehari-hari. Semoga Allah melembutkan hati kita dan memberi kekuatan untuk istiqomah dalam berzikir kepadaNya. Amin.

Wallahu a'lam bis showab.